manajemen yang mendukung perubahan-perubahan tersebut

manajemen yang mendukung perubahan-perubahan tersebut.
1.2. Manajemen Mutu Perguruan Tinggi
Setiap organisasi termaksud perguruan tinggi senantiasa berupaya mencari cara untuk meningkatkan kinerja dan keunggulan kompetitif serta berjuang untuk mencapainya melalui berbagai penggunaan pendekatan, salah satunya adalah manajemen mutu atau quality managemen (QM) yang secara sistematis mampu meningkatkan kinerja organisasi dalam kaitannya dengan kualitas jasa atau produk dari perguruan tinggi/akademis.
Manajemen mutu adalah suatu totalitas yang merupakan upaya luas organisasi dengan keterlibatan penuh dari seluruh kekuatan organisasi dan fokus dalam perbaikan berkelanjutan untuk mencapai kepuasan pelanggan. Implementasi manajemen mutu telah diidentifikasikan dan semakin disadari sebagai salah satu bahan utama yang terpenting bagi organisasi untuk dapat sukses dan memiliki keunggulan berdaya saing global.
Dalam konteks perguruan tinggi, mutu juga dipahami secara beragam. Freeman, misalnya, berpendapat bahwa mutu perguruan tinggi ditujukan kepada konstituen atau para pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Perguruan tinggi dapat mengartikan mutu sebagai keahlian lulusannya, sehingga mereka akan mendapatkan pekerjaan yang baik pendapatan yang tinggi.
Istilah “Mutu” pendidikan tinggi idealnya dipahami pada mata rantai proses produksi, konsumsi, dan reproduksi akademis. Sering kita terjebak melihat mutu universitas hanya secara indikatif-kuantitatif pada produk akademis semata seperti lulusan, hasil riset, publikasi, serta “pelayanan” masyarakat. Padahal, mutu produk akademis tersebut sangat ditentukan oleh proses produksi dalam suatu kompleks struktur akademis dan non-akademis. Proses produksi akademis tersebut melibatkan subjek ajar, staf akademis, staf non-akademis, nilai bersama, kepemimpinan, infrastruktur, kapital kebudayaan, kekuatan finasial, jejaring, komunikasi, dan sebagainya. Selain itu, mutu pendidikan tinggi dapat ditelusuri jauh pada relevansi serta kepuasan pemakai; bahkan pada proses reproduksi lembaga maupun aktor yang terkait di dalamnya. Proses reproduksi dipahami sebagai “pemulihan tenaga” dari lembaga dan aktor demi kesinambungan proses produksi itu sendiri.
Manajemen mutu secara aktual maupun ideal, dipengaruhi oleh kontek mutu organisasi. Dalam hal ini mencakup dukungan organisasi terhadap mutu, performa mutu di masa lalu, pengetahuan manajerial, dan perluasan permintaan mutu eksternal. Atas dasar itu, Waldman mengemukakan delapan faktor penting bagi praktek manajemen mutu, yaitu:
the elements to be key for TQM Concept are 1) upper management commitment to place quality as a top priority; 2) striving continually to improve employee capabilities and work processes; 3) involment of all organizational members in co-operative, team based efforts to achieve quality improvement efforts; 4) a focus on quality throughout all phases of the design, production and delivery of a product/service, i.e not just the end of product; 5) attempts to involve external suppliers and customers involved in TQM efforts; 6) frequent use of scientific and problem-solving techniques, including statistical process control; 7) the institution of leadership practices oriented towards TQM values and vision; 8) the development of a quality culture.

Elemen-elemen yang menjadi kunci konsep TQM adalah: 1) komitmen manajemen dalam menempatkan kualitas sebagai prioritas utama; 2) terus berupaya meningkatkan kemampuan dan cara kerja karyawan; 3) keterlibatan seluruh organisasi secara kooperatif, upaya tim dalam upaya mencapai perbaikan kualitas; 4) fokus pada kualitas seluruh tahapan desain produksi (bukan hanya pada akhir produksi), dan pengiriman barang/jasa; 5) upaya melibatkan pemasok eksternal dan pelanggan yang terlibat pada upaya TQM; 6) senantiasa menggunakan cara ilmiah dan teknik pemecahan masalah, termaksud dalam mengendalikan proses perhitungan angka-angka; 7) memberika pelatihan kepemimpinan perusahaan yang berorientasi pada nilai dan visi TQM; 8) mengembangkan budaya mutu.
Rowley (1995) mengartikan manajemen mutu sebagai: “a general term which encompases all the policies, systems and process directed towards ensuring the maintenance and enhancement of the quality of educational provision. For example, course design, staff development, the collection and use of feedback from students, staff and employes”.
Istilah umum yang mencakup semua kebijakan, sistem dan proses
yang diarahkan untuk memastikan pemeliharaan dan peningkatan kualitas penyediaan pendidikan. Misalnya, desain pelatihan dan pengembangan karyawan, pengumpulan dan penggunaan umpan balik dari siswa, staf, dan karyawan.
Manajemen mutu dapat dipahami sebagai framework pemikiran yang berproses secara berturut-turut yaitu mendefinisikan mutu, memperbaiki unjuk kerja organisasi, dan memperbaiki sistem administrasinya. Mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus menerus, pembagian tanggung jawab dengan para pegawai dan pengurangan pekerjaan tersisa dan pengerjaan kembali. Dengan pendekatan mutu terpadu, diharapkan universitas juga menjadi lebih serius menangani hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran kinerja dan market share serta isu nilai investasi (value for money). Perbaikan mutu yang berorientasi pada konsumen sangat penting demi kelangsungan universitas tersebut dalam kondisi yang dinamis. Selain itu, kebijakan mengenai strategi manajemen mutu dari suatu universitas dapat merupakan cermin bagi pihak luar terutama mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa mutu pendidikan merupakan prioritas utama dari universitas.
Di negara-negara yang relatif mapan di mana pengaruh globalisasi sangat kuat, institusi pendidikan tinggi sudah berubah menjadi lembaga internasional. Dalam kontek seperti itu, di mana selain adanya standar bagi penyelenggaraan international education, dalam rangka perbaikan mutu, manajemen mutu sangat berorientasi pada konsumen baik lokal maupun dunia yang terdesentralisir dan sangat kompetitif. Perguruan Tinggi (PT) sebagai penyelenggara pendidikan tinggi (dikti) juga sebagai pusat pengembangan ilmu dan teknologi diharapkan mampu meningkatkan peranannya dalam memajukan dan mempercepat pembangunan nasional melalui ilmu dan pengembangan teknologi.
Dapat dikatakan bahwa manajemen mutu berperan penting sebagai penggerak utama kesuksesan program penjaminan mutu di perguruan tinggi. Upaya merealisasikan kebijakan program manajemen mutu harus secara konsisten ditetapkan dalam penyusunan rencana strategik, kebijakan, manajemen dan secara operasional penyelenggaraan kebijakan program manajemen mutu dan internasionalisasi riset.
Sehubungan dengan pendekatan strategi tentang mutu, universitas menjadi lebih serius menangani hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran kinerja dan market share serta isu nilai investasi (value for money). Perbaikan mutu yang berorientasi pada konsumen sangat penting demi kelangsungan universitas tersebut dalam kondisi yang dinamis. Selain itu, kebijakan mengenai strategi manajemen mutu dari suatu universitas dapat merupakan cermin bagi pihak luar terutama mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa mutu pendidikan merupakan prioritas utama dari universitas. Universitas Indonesia (UI) memiliki standar mutu, selain ditetapkan sendiri oleh UI juga menggunakan standar mutu yang sudah tersedia di pasar, antar lain “International Organization for Standardization” (ISO 9000), “British Standard” (BS), dan standar Asean University Network (AUN Standar). Masing-masing standar mempunyai fungsi dan lingkup akuntabilitasnya tersendiri. Untuk lingkup internasional, banyak universitas menggunakan standar ISO 9000. Sedangkan untuk kawasan Asean dikenal standar AUN. UI sejak tahun 2001 telah menjadi anggota AUN, dan sebagai konsekwensinya UI harus mengacu pada standar AUN.
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Perguruan Tinggi
Secara umum, diketahui bahwa Research adalah suatu usaha yang sistematis untuk mencari kebenaran yang sudah ada tetapi belum dibuktikan melalui penelitian. Riset dan Ilmu Pengetahuan (Iptek) sangat erat hubungannya, melalui riset ilmu pengatahuan dapat terus berkembang seiring kemajuan peradaban zaman dan teknologi. Imu Pengetahuan telah ada jauh sebelum sejarah manusia dicatat. Induk ilmu pengetahuian adalah magi yang terdapat dalam suku-suku, magi juga merupakan induk kepercayaan dan seni. Pada mulanya ilmu pengetahuan ditujukan kepada hal-hal yang praktis saja. Manusia masih sibuk dengan mencari makan, pakaian dan perlindungan terhadap keganasan alam. Kemudian berkembang teknologi diikuti oleh perkembangan ilmu dan budaya, hingga saat ini di era globalisasi informasi dan teknologi yang begitu pesatnya yang telah jauh melampaui perkembangan budaya dan seni tradisional.
M.K. Tadjudin pada penataran tenaga peneliti perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia menyebutkan batasan ilmu pengetahuan “Adalah suatu hal yang sangat sulit untuk memberi definisi ilmu pengetahuan. Untuk dapat mengerti apakah arti ilmu pengetahuan umumnya dipakai cara penetapan batas-batas ilmu pengetahuan. Sesuatu yang terletak diluarnya adalah tidak ilmiah.” Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa Ilmu Pengetahuan tidak menilai keputusan moril, tetapi pemakai ilmu itu yang menilainya. Sebagai contoh, ilmu pengetahuan yang telah menemukan bom atom dan penisilin tidak dapat menilai apakah penemuan itu baik atau tidak. Apakah penemuan itu baik atau tidak, terletak apada pemakainya yang akan menggunakannya untuk tujuan baik atau tidak.
Seiring waktu, Ekspektasi masyarakat pada Perguruan Tinggi terus berkembang, sejak pertama kali berdiri, dimana masyarakat saat itu berharap Perguruan Tinggi bisa memerankan dirinya sebagai agent of education. Saat Perguruan Tinggi sudah mampu memerankan dirinya sebagai agent of education, masyarakat berharap lebih, Perguruan Tinggi tidak hanya dapat memerankan dirinya sebagai agent of education tetapi juga memerankan diri sebagai agent of research and development. Harapan ini terus berlanjut sampai sekarang ini dimana masyarakat berharap Perguruan Tinggi bisa memerankan dirinya sebagai agent of knowledge and technology transfer dan akhirnya sebagai agent of economic development.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kekuatan riset sebuah negara sangat ditentukan oleh keberadaan Sumber Daya Iptek (SDM) ipteknya, baik kuantitas maupun kualitasnya. Karena kegiatan riset merupakan proses penciptaan invensi yang bersandar pada kemampuan berkreasi para pelakunya. Mengingat peran riset terhadap perekonomian yang semakin signifikan, maka penting bagi Indonesia dalam hal ini perguruan tinggi untuk dapat meningkatkan kegiatan riset.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi saat ini sangat cepat dan dinamis, seiring dengan perkembangan yang terjadi dalam teknologi elektronika dan informatika. Hal ini ditandai oleh semakin memendeknya “life cycle” dari produk maupun teknologi atau dengan perkataan lain dapat diartikan semakin cepatnya usang suatu produk maupun teknologi. Akibatnya produk-produk baru cenderung ke arah miniaturisasi dan “high precision” pula. Mengacu pada pengertian internasionalisasi sebagaimana dikemukakan oleh Knight , yaitu mengintegrasikan berbagai dimensi internasional dan lintas budaya ke dalam proses pembelajaran, riset, dan pengabdian masyarakat, maka suatu perguruan tinggi membutuhkan suatu strategi ke arah internasionalisasi. Kerangka strategi yang dibangun perlu memuat implementasi konkret berupa peta jalan yang akan dilaksanakan suatu perguruan tinggi menuju internasionalisasi.
Globalisasi dan internasionalisasi membawa dampak perubahan terhadap posisi Perguruan Tinggi dalam strategi nasional sebuah negara. Perguruan tinggi pada dekade ini telah dijadikan sebagai salah satu alat oleh pemerintah di berbagai Negara untuk meningkatkan reputasi internasional. Scott (1998) dalam Eggins (2003) menyatakan bahwa semua Universitas tidak luput dari dampak globalisasi–sebagian menjadi objek sebagian korban, namun sebagian lagi menjadi bagian dari subjek atau agen utama dari globalisasi. Sehingga globalisasi didefinisikan secara netral dan dipandang sebagai faktor lingkungan kunci yang memiliki efek berganda-baik positif dan negatif-pada pendidikan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan perguruan tinggi merupakan faktor yang penting dalam pembangunan suatu negara, khususnya di Indonesia. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang Dasar (UUD) yang menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Pembangunan Iptek dan perguruan tinggi bukan hanya akan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional dalam upaya meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, jika pembangunan Iptek dan pendidikan tinggi mampu menghasilkan produk teknologi dan inovasi serta sumber daya manusia yang terampil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Tekanan globalisasi dan perubahan paradigma dalam dunia pendidikan tinggi juga menjadikan salah satu agenda negara-negara maju di kawasan Eropa, dimana sejak tahun 2010 lalu mereka telah mengarahkan kepada konvergensi sistem perguruan tinggi di kawasan eropa guna meningkatkan kompatabilitas, mutu, daya tarik dan daya saing seluruh perguruan tinggi Eropa. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa pembangunan sektor pendidikan tinggi, peningkatan kegiatan riset dan perluasan akses bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas dipandang sebagai sebuah langkah strategis dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.
Disebutkan oleh Bank Dunia bahwa “….an approach that pursues primary education alone with leave societies dangerously unprepared for survival in tomorrow’s world.” (World Bank, 2000: 16). Kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas dianggap erat kaitannya dengan investasi dalam bentuk human capital berupa pengetahuan, keahlian, dan akal daya dalam setiap individu; sementara itu, high quality human capital dibangun melalui high quality higher education systems. (World Bank, 2000). Era globalisasi ekonomi ditandai dengan munculnya ratifikasi GATT (1994), WTO (1995), AFTA (2003), APEC (2010), termaksud MEE dan NAFTA (kerjasama ekonomi regional lainnya yang ‘tertutup dan protektif’), dan lainnya. Melalui era globalisasi dan perdagangan bebas paling tidak membuka peluang dan tantangan baru yang menuntut adanya langkah-langkah kebijaksanaan iptek guna mendorong perkembangan standar mutu produksi yang setara dengan standar internasional serta mendorong tumbuhnya daya kreasi dan inovasi guna meningkatkan keunggulan, daya saing, dan nilai tambah barang dan jasa, yang diproduksi di indonesia pada saatnya, sehingga produk dalam negeri akan memliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif sendiri. Walaupun di Indonesia struktur industri yang ada masih banyak yang memerlukan dengan sentuhan teknologi anak negeri.
Sebagaimana diakui oleh Bank Dunia, suksesnya pembangunan bukan melalui peningkatan pendidikan dasar semata, melainkan juga bersumber dari basis teknologi yang kuat. Perguruan tinggi berperan penting dalam upaya mencapai kemajuan, meningkatkan daya saing, dan membangun keunggulan bangsa, melalui pengembangan ilmu pengetahuan,

penemuan ilmiah, dan inovasi teknologi. Perguruan tinggi mempunyai kaitan